BREAKING NEWS

 


Atap Sekolah Hancur, Dana BOS Ratusan Juta Mengalir! Ada Apa di SDN Batorasang 1?

Atap Sekolah Hancur, Dana BOS Ratusan Juta Mengalir! Ada Apa di SDN Batorasang 1?

SAMPANG||Garuda08.com — Fakta mencengangkan terungkap dari SDN Batorasang 1, Kecamatan Tambelangan, Kabupaten Sampang. Di tengah kucuran dana ratusan juta rupiah, kondisi sekolah justru tampak nyaris tak layak digunakan, Senin (27/4/2026).


Atap ruang kelas terlihat bolong di banyak titik. Kayu penyangga tampak lapuk, sementara bangunan terlihat seperti tidak pernah tersentuh perbaikan serius.


Yang lebih mengejutkan, kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung di bawah kondisi tersebut. Siswa belajar di ruang yang sewaktu-waktu bisa membahayakan keselamatan mereka.


Di balik kondisi itu, dana BOS yang diterima sekolah tidak kecil. Dalam tiga tahun terakhir, total anggaran mencapai Rp321.534.800.


Rinciannya, Rp101.915.000 pada 2024, Rp107.349.825 pada 2025, dan Rp112.270.000 pada 2026. Angka yang seharusnya cukup untuk memperbaiki fasilitas dasar.


Namun publik justru disuguhi pemandangan sebaliknya. Atap tetap bolong, bangunan tetap rusak, dan tidak terlihat perubahan signifikan.


Sorotan tajam mengarah pada anggaran pemeliharaan. Pada 2024 sebesar Rp22.010.000 dan 2025 sebesar Rp24.023.250.


Dengan angka tersebut, publik mempertanyakan: kenapa kondisi sekolah masih seperti ini?.


Tak hanya itu, anggaran lain seperti AKS, perpustakaan, hingga multimedia tetap berjalan. Di tengah kondisi bangunan yang memprihatinkan, prioritas penggunaan dana pun dipertanyakan.


Situasi ini memunculkan dugaan kuat adanya ketidaksesuaian antara anggaran dan realisasi di lapangan.


Bahkan, mulai muncul spekulasi di masyarakat soal indikasi penyimpangan dana pendidikan.


Kepala sekolah Buhari yang menjadi penanggung jawab hingga kini belum memberikan penjelasan. Upaya konfirmasi yang dilakukan tidak mendapat respons.


Sikap bungkam juga datang dari pihak pengelola dana BOS tingkat kabupaten. Tidak ada klarifikasi resmi yang bisa menjawab pertanyaan publik.


Pemerhati pendidikan, Wirno, menilai kondisi ini tidak wajar. Ia menyebut, jika dana besar tidak berdampak pada perbaikan, maka patut diduga ada masalah serius.


Dengan 109 siswa yang setiap hari belajar di bangunan rusak, tekanan publik kini semakin kuat. Jika tak ada penjelasan, kasus ini berpotensi dibawa ke ranah hukum. (Fit)
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image