Terungkap! Gudang Solar Ilegal di Pamekasan Jadi Pusat Penimbunan, Aroma Mafia BBM Menyengat
0 menit baca
Terungkap! Gudang Solar Ilegal di Pamekasan Jadi Pusat Penimbunan, Aroma Mafia BBM Menyengat
Pamekasan||GARUDA08.COM — Skandal dugaan penjarahan solar subsidi meledak ke permukaan setelah truk bermuatan BBM ilegal tumpah di Jalan Raya Arosbaya, Bangkalan, Sabtu (2/5) sekitar pukul 23.00 WIB. Tumpahan itu bukan sekadar insiden, tetapi diduga menjadi pemicu kecelakaan akibat jalan berubah licin dan membahayakan pengguna.
Polres Bangkalan bergerak cepat. Truk yang telah dimodifikasi secara ilegal langsung diamankan bersama sopir dan kernet. Kendaraan tersebut diduga kuat menjadi bagian dari rantai distribusi gelap BBM subsidi yang selama ini beroperasi senyap.
Pengembangan kasus tak berhenti di lokasi kejadian. Sehari berselang, Minggu (3/5) pukul 16.00 WIB, Satreskrim melakukan penggerebekan di sebuah gudang penimbunan solar subsidi di Dusun Lon Pelle Laok, Desa Batu Bintang, Kecamatan Batu Marmar, Pamekasan.
Gudang itu disebut milik warga berinisial (R). Di lokasi, petugas menemukan tandon berkapasitas 1.000 liter. Sebagian penampungan bahkan ditempatkan di lahan terpisah—pola yang diduga sengaja dirancang untuk mengelabui aparat dan memutus jejak distribusi ilegal.
Fakta di lapangan menunjukkan skema yang tidak sederhana. Modifikasi truk dan pola penimbunan terpisah mengarah pada operasi yang terstruktur, bukan sekadar pelanggaran sporadis.
Tim investigasi Gabungan Aktivis Sosial Indonesia (GASI) melalui Bambang menilai praktik ini mengindikasikan adanya jaringan mafia BBM yang bekerja sistematis dan lintas wilayah.
“Ini bukan pemain kecil. Polanya rapi, terorganisir, dan ada indikasi distribusi lintas daerah hingga Sidoarjo. Aparat harus berani bongkar sampai ke aktor utamanya,” tegas Bambang, Selasa (5/5/2026).
Menurutnya, praktik seperti ini hanya mungkin berjalan jika ada celah pengawasan yang dimanfaatkan secara terus-menerus. Ia mendesak agar penyelidikan tidak berhenti pada sopir atau pelaku lapangan semata.
Sorotan tajam juga mengarah pada lemahnya pengawasan di wilayah hukum Polsek Tamberu, Polres Pamekasan. Hingga berita ini diturunkan, Kapolsek Tamberu belum memberikan keterangan resmi terkait temuan tersebut.
Ketiadaan respons ini justru memicu tanda tanya publik. Di tengah skala kasus yang mengarah pada jaringan besar, diamnya otoritas lokal dinilai memperkeruh situasi dan menurunkan kepercayaan masyarakat.
Penyalahgunaan BBM subsidi bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi juga pengkhianatan terhadap hak masyarakat kecil. Solar yang seharusnya dinikmati sektor produktif justru diduga disedot dan diperjualbelikan secara ilegal.
Kerugian negara dalam kasus semacam ini tidak kecil. Selain potensi kebocoran anggaran subsidi, dampak langsung juga dirasakan masyarakat melalui kelangkaan dan kenaikan harga di lapangan.
Insiden tumpahan solar di Bangkalan menjadi bukti nyata bahwa praktik ilegal ini tidak hanya merugikan secara ekonomi, tetapi juga membahayakan keselamatan publik.
Kini, tekanan publik menguat. Desakan agar aparat membongkar jaringan hingga ke akar—termasuk kemungkinan keterlibatan aktor besar—kian tak terbendung. Penyelidikan masih berjalan. Namun satu hal mulai terang: kasus ini bukan sekadar kecelakaan di jalan, melainkan pintu masuk untuk menguak dugaan jaringan mafia solar subsidi yang selama ini bermain di balik bayang-bayang.






