MBG Disajikan Pakek Plastik Murahan, Pengelola Al Ihsan Dikecam!
0 menit baca
MBG Disajikan Pakek Plastik Murahan, Pengelola Al Ihsan Dikecam!
SAMPANG||Garuda08.com - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang semestinya menjadi ikon perang melawan stunting di Desa Gunung Rancak justru memicu ledakan kemarahan publik. Temuan lapangan memperlihatkan bahwa dapur MBG yang dikelola Yayasan Al Ihsan menghadirkan kondisi yang oleh warga disebut sebagai “puncak kemerosotan standar negara”.
Yang seharusnya bernilai gizi, justru berubah menjadi menu murahan yang diduga dikepras seenaknya: nasi pucat, sepotong telur tipis, dibungkus plastik tipis seperti limbah dapur. Tidak ada wadah aman, tidak ada standar higienitas, tidak ada transparansi gizi. Yang terlihat hanya pengelolaan yang terkesan mengabaikan martabat penerima manfaat.
“Ini bukan makan bergizi. Ini penghinaan. Kalau begini caranya, jangan sebut ini program negara,” kata seorang warga Gunung Rancak dengan nada marah.
Warga mempertanyakan bagaimana sebuah program presiden dapat jatuh ke kualitas yang dianggap tidak layak dikonsumsi manusia, apalagi balita dan ibu hamil — kelompok paling rentan dalam rantai kesehatan.
Minimnya informasi gizi, cara pengemasan yang dinilai berbahaya, dan menu yang nyaris kosong nutrisi memunculkan dugaan publik bahwa dapur MBG di bawah Yayasan Al Ihsan lebih berorientasi pada laporan daripada kualitas. Program berjalan di atas kertas, sementara di lapangan yang tersaji hanya simbol dari ketidakseriusan pelaksana.
Lebih jauh, warga menilai bahwa kondisi di Gunung Rancak bukan sekadar kekeliruan teknis, melainkan indikasi kuat adanya keretakan mendalam dalam manajemen pengelolaan MBG oleh Yayasan Al Ihsan. Ketika wadah diganti plastik murahan dan gizi dikorbankan, muncul pertanyaan besar: ke mana sesungguhnya arah dan mutu penggunaan anggaran MBG?
Hingga laporan ini terbit, Yayasan Al Ihsan belum memberikan klarifikasi publik terkait standar menu, alur pengadaan, detail anggaran per porsi, atau mekanisme pengawasan kualitas makanan.
Kekosongan penjelasan ini memperkuat gelombang tuntutan warga agar pengelolaan MBG segera dicabut dari tangan Yayasan Al Ihsan. Mereka menilai kelalaian dan carut-marut ini telah mencoreng nama program dan merugikan anak-anak desa.
“Kalau negara membiarkan ini, berarti negara ikut mengamini makanan yang bahkan tidak layak disebut konsumsi,” kecam seorang warga lainnya.
Desakan warga semakin keras: hentikan dapur MBG Al Ihsan sementara, audit total anggaran dan menu, buka seluruh proses secara transparan. Bagi mereka, langkah ini bukan hanya pembenahan, tetapi operasi penyelamatan terhadap program presiden yang diduga dibajak menjadi proyek minim kualitas.
Sebab di Gunung Rancak hari ini, nasi pucat dalam plastik telah menjadi simbol telanjang dari sebuah ironi: program presiden yang menjanjikan gizi justru dipersembahkan dalam wujud yang dinilai merendahkan penerimanya.
Jika pemerintah tidak bergerak, maka yang runtuh bukan hanya kredibilitas satu dapur MBG, tetapi kepercayaan rakyat terhadap keseriusan negara dalam menjaga gizi warganya. Dan kepercayaan itu, sekali retak, tak bisa diperbaiki oleh laporan yang tampak indah di meja birokrasi.
Kini, pilihan ada di pemerintah: membersihkan akar masalah dan mencabut pengelola, atau membiarkan program nasional tenggelam oleh pengelolaan yang dianggap serampangan. (Fit)






