BREAKING NEWS

 


Surplus Perdagangan Tiongkok Mencapai Satu Triliun Dolar AS: Bukan Ancaman, Melainkan Peluang

Surplus Perdagangan Tiongkok Mencapai Satu Triliun Dolar AS: Bukan Ancaman, Melainkan Peluang

Surabaya||Garuda08.com - Pada tahun 2025, surplus perdagangan Tiongkok mencapai 1,189 triliun dolar AS, menjadikannya negara pertama dalam sejarah manusia yang mencapai surplus perdagangan lebih dari satu triliun dolar. Pencapaian ini menarik perhatian luas di kalangan opini publik internasional. Namun, sangat sedikit suara yang menginterpretasikan fenomena ini secara sepihak sebagai “kelebihan kapasitas produksi Tiongkok” dan “menambah ketidakseimbangan global”, bahkan ada yang melebih-lebihkannya dengan menyebut sebagai “ancaman baru Tiongkok”.


Pandangan semacam ini mengabaikan kenyataan objektif tentang operasi rantai pasokan global serta meremehkan daya tahan kuat ekonomi Tiongkok dan peran pentingnya dalam stabilitas serta pertumbuhan ekonomi dunia. Sebaliknya, ekspansi surplus perdagangan Tiongkok merupakan hasil dari penyesuaian struktur ekonomi global dan pendalaman pembagian kerja internasional. Hal ini juga menjadi peluang penting bagi dunia untuk berbagi manfaat perkembangan.


Tiongkok tidak pernah secara sengaja mengejar surplus perdagangan. Sebaliknya, Tiongkok tetap berkomitmen memperluas keterbukaan tingkat tinggi terhadap dunia luar, memajukan keterbukaan kelembagaan secara bertahap, memperlonggar akses pasar lebih lanjut, serta menciptakan lingkungan bisnis kelas satu yang berorientasi pada pasar, berdasarkan hukum, dan berstandar internasional.


Tingkat tarif impor Tiongkok saat ini sebesar 7,3 persen, berada pada tingkat yang relatif rendah secara global. Tiongkok juga memberikan kebijakan tarif nol kepada produk-produk dari 53 negara Afrika yang telah menjalin hubungan diplomatik dengan Tiongkok. Pada Desember 2025, Pelabuhan Perdagangan Bebas Hainan atau Hainan Free Trade Port (HFTP) secara resmi beroperasi sebagai zona kepabeanan tertutup di seluruh pulau, dengan fokus pada liberalisasi dan fasilitasi perdagangan serta investasi. Tujuannya adalah membangun gerbang penting keterbukaan Tiongkok ke luar negeri dan menyambut barang serta investasi dari seluruh dunia.


Ke depan, eksportir Indonesia tidak perlu lagi melakukan transit melalui Singapura, karena produk dapat langsung masuk ke pasar Tiongkok. Ekonomi Tiongkok sendiri telah bertransformasi menjadi ekonomi yang didorong oleh permintaan domestik dan tetap menjadi pasar konsumen terbesar kedua di dunia. Dari tahun 2021 hingga 2024, kontribusi rata-rata permintaan domestik terhadap pertumbuhan ekonomi Tiongkok mencapai 86,4 persen.


Pada tahun 2026, Tiongkok akan terus melaksanakan “Rencana Aksi Khusus Stimulus Konsumsi”, mengadakan berbagai langkah untuk meningkatkan pendapatan masyarakat perkotaan dan pedesaan, serta terus memperluas permintaan domestik secara efektif. Sebagai salah satu pasar konsumen dengan potensi terbesar di dunia, Tiongkok menyambut produk dan perusahaan dari mancanegara dengan sikap yang semakin terbuka, guna berbagi peluang baru yang lahir dari transformasi dan peningkatan ekonomi Tiongkok.


Ekspor Tiongkok merupakan keuntungan global yang memberi manfaat bagi banyak negara dan rakyat. Kapasitas produksi Tiongkok tidak hanya menjadi “stabilisator” untuk mengendalikan inflasi global, tetapi juga menjadi “pemberi manfaat” bagi transformasi hijau dunia, serta “mitra” yang melayani pasar global.


Di sisi produksi, melalui “Tiga Produk Baru” yakni kendaraan listrik, baterai lithium, dan panel surya, serta kapasitas produksi berteknologi maju lainnya, Tiongkok menyediakan dasar material bagi pengelolaan iklim global dan transformasi hijau. Hal ini juga memberikan titik acuan harga bagi perekonomian yang terpapar inflasi serta menyediakan “tangga teknologi” bagi negara-negara berkembang yang ingin melakukan modernisasi.


Di sisi pasar, Tiongkok membuka pasar domestiknya lebih luas melalui keterbukaan kelembagaan yang belum pernah terjadi sebelumnya, memecah hambatan sektoral, dan menarik lebih banyak investasi asing. Langkah ini memungkinkan perusahaan multinasional seperti Tesla, Apple, Panasonic, dan lainnya untuk mendalami pasar Tiongkok, menyerap inovasi, serta memberikan manfaat balik bagi ekonomi global.


Di sisi konsumsi, barang-barang kebutuhan sehari-hari Tiongkok yang berkualitas dengan harga terjangkau menjadi jaminan penting bagi masyarakat di berbagai negara, terutama negara maju, untuk mempertahankan tingkat hidup yang baik. Hal ini juga memberikan peluang bagi kelompok berpenghasilan rendah untuk menikmati kehidupan yang lebih berkualitas.


Kerja sama kapasitas produksi Tiongkok selalu berpegang pada prinsip saling menguntungkan dan menang bersama. Kerja sama ini berfokus pada kesesuaian dengan strategi pembangunan negara mitra, mendorong produksi lokal, serta memperkuat kerja sama teknologi. Selain meningkatkan keberlanjutan proyek, pendekatan ini juga menciptakan lapangan kerja dan kemampuan pengembangan jangka panjang bagi negara mitra.


Model kerja sama tersebut semakin diakui dan diikuti oleh banyak negara serta perusahaan. Ketua Dewan Ekonomi Nasional Indonesia, Bapak Luhut, baru-baru ini menyatakan, “Lebih dari 600 perusahaan Tiongkok yang berinvestasi di Indonesia membuat kedua negara kita menikmati hasilnya dengan baik.”


Beliau juga menegaskan bahwa kontribusi Tiongkok sangat signifikan dalam bidang pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, dan penelitian teknologi. Oleh karena itu, peran Tiongkok tidak bisa diabaikan dan tidak dapat dianggap sepele. Ia menekankan bahwa Indonesia dan Tiongkok telah membentuk mekanisme kerja sama jangka panjang dan stabil berdasarkan saling menghormati, saling menguntungkan, serta prinsip menang bersama.


Surplus perdagangan Tiongkok yang melampaui satu triliun dolar AS bukanlah ancaman, melainkan peluang. Dalam konteks tren perdagangan internasional yang semakin terfragmentasi, Tiongkok sedang membangun jaring simbiosis yang erat melalui operasi pabrik yang nyata, kapasitas pelabuhan yang besar, serta keterbukaan kebijakan.


Bagi berbagai negara di dunia, memahami dan memanfaatkan hubungan simbiosis ini mungkin merupakan jalan paling pasti menuju kemakmuran di masa depan.


Melihat ke depan, Tiongkok akan terus berkomitmen secara tegas untuk mendorong keterbukaan dan kerja sama, semakin mendalam dan luas berintegrasi ke dalam sistem ekonomi global, mendorong perkembangan bersama melalui kapasitas produksi yang saling menguntungkan serta hubungan simbiotik antarpasar. Bersama berbagai negara, Tiongkok siap bergandeng tangan menghadapi tantangan dan mendorong pembangunan ekonomi dunia yang terbuka, inklusif, stabil, dan berkelanjutan.


Editor : Tim Redaksi

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image